PENERAPAN QUANTUM TEACHING BERBANTUAN GOOGLE CLASSROOM UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJA

PENERAPAN QUANTUM TEACHING BERBANTUAN GOOGLE CLASSROOM UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR AGAMA HINDU SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 GUNUNG SALAK
Oleh
I Wayan Martin Susila
Email : martinsusila89@gmail.com
SD Negeri 1 Gunung Salak
Abstrak
Berdasarkan observasi di kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak, ditemukan masalah dalam aktivitas belajar daring Agama Hindu siswa. Hal ini dikarenakan kurang adanya pembelajaran yang efektif dari guru sehingga berakibat pada rendahnya aktivitas belajar siswa. Maka perlu adanya suatu perbaikan pembelajaran yaitu melalui penerapan model pembelajaran Quantum Teaching berbantuan google classroom. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah model Quantum teaching berbantuan google classroom dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak ?”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model Quantum teaching berbantuan google classroom dalam meningkatkan aktivitas belajar Agama Hindu siswa kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri, yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi/Evaluasi, (4) Refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SD 1 Gunung Salak dengan jumlah siswa 6 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik nontes berupa observasi dengan instrumen yang berbentuk lembar observasi. Teknik Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Data yang dikumpulkan adalah data aktivitas belajar Agama Hindu siswa. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan persentase rata-rata aktivitas belajar Agama Hindu sebesar 20% dari 63,3% pada siklus 1 kriteria “cukup tinggi” menjadi 83,3% kriteria “tinggi” pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilaksanakan disimpulkan bahwa model pembelajaran Quantum Teaching berbantuan Google Classroom dapat meningkatkan aktivitas belajar Agama Hindu siswa kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak.
Kata Kunci : Quantum Teaching, Google Classroom, Aktivitas belajar siswa.
Abstract
The observations in Grade VI of SD Negeri 1 Gunung Salak, showed that there were problems in student activity Hindu Religion. It was due to the lack of effective learning from teachers resulting on low student activity Hindu Religion. Therefore, the improvement in learning was necessary through the implementation of the Quantum Teaching learning model assisted by google classroom. The formulation of the problem in this research was “Can the Quantum Teaching model assisted by google classroom as increase the activity Hindu Religion of VI grade students of SD Negeri 1 Gunung Salak?” This research aimed at determining the Quantum teaching model assisted by google classroom in increasing the the activity Hindu Religion of grade students of SD Negeri 1 Gunung Salak. This research was a Classroom Action Research (CAR) consisted of two cycles. Each cycle consisted of (1) planning, (2) implementation, (3) observation / evaluation, and (4) reflection. This research was conducted at SD Negeri 1 Gunung Salak to 6 students. The data were collected through non-test techniques in the form of observation using observation sheets. The data analysis technique used was quantitative descriptive analysis. The data collected were student activity Hindu Religion. The finding showed that there was an increase in the average percentage of motivation by 20%, from 63,3% in the Cycle I with “fair high” criteria to 83,3% in the “high” criteria in the Cycle II. Based on the results of the analysis, it is concluded that the Quantum Teaching learning model assited by google classroom could increase the activity Hindu Religion of VI grade students of SD Negeri 1 Gunung Salak.
Keywords: Quantum Teaching, Google Classroom, students’ activity Hindu Religion.
- PENDAHULUAN
Pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu ujung tombak dalam kemajuan suatu bangsa. Dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Pendidikan hendaknya harus dikelola dan dilaksanakan dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pendidikan juga merupakan faktor pendukung dalam perkembangan dan persaingan di berbagai bidang. Indonesia selalu meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengadakan perubahan pada kurikulum yang diterapkan. Kurikulum yang diterapkan di Indonesia adalah Kurikulum 2013 revisi, dimana kurikulum ini merupakan kurikulum terbaru dan hasil penyempurnaan dari Kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 sangat menekankan karakter peserta didik untuk mencapai karakter yang berbudi pekerti luhur.
Pendidikan karakter erat kaitannya dengan pembentukan prilaku dan karakter yang berbudipekerti luhur. Pendidikan karakter tertuju pada terwujudnya manusia masa depan yang menumbuh kembangkan nilai-nilai filosofis dan mengamalkan seluruh karakter bangsa secara utuh dan menyeluruh. Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia pendidikan karakter harus memiliki nilai perekat bangsa yakni memahami serta menyadari nilai-nilai budaya bangsa yang terkandung di dalam Undang-undang Dasar 1945 serta filsafat Pancasila, sehingga manusia Indonesia nantinya akan mencerminkan diri sebagai sosok yang memiliki nilai tambahan (added value). Pada dasarnya pembentukkan karakter itu dimulai dari usia dini, karena usia dini merupakan masa emas (golden age) yang keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak di masa depannya. Dalam hal pembentukan karakter, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah memiliki peranan yang sangat strategis karena keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama berfungsi mewariskan nilainilai agama, budaya, etika, moral, dan spiritual kepada putra putrinya. Sementara sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertugas untuk menstranformasikan sains dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai, sosial-budaya yang dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu dan memiliki daya saing tinggi, sehingga unggul dalam persaingan.
Pendidikan yang baik hendaknya dapat membentuk peserta didiknya memiliki kepribadian dan karakter yang baik. Guru memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter peserta didik. Guru hendaknya tidak memberikan pengetahuan ilmiah saja, namun juga harus membimbing pesrta didik menuju prilaku dan karakter yang baik. Pendidikan karakter dapat disiipkan dalam pembelajaran Agama Hindu. Hal tersebut karena pembelajaran Agama Hindu memuat tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai dengan materi Agama Hindu. Pendidikan juga selayaknya membentuk karakter ke arah yang lebih baik. Senada dengan itu dalam Peraturan Pemerintahan No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dinyatakan sebagai berikut:
Pendidikan Agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. Dan bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaan dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Mencermati fungsi dan tujuan pendidikan agama di atas, menyatakan bahwa pendidikan agama sangatlah penting dalam membentuk karakter manusia. Karena di dalam pendidikan agama, salah satunya pendidikan agama Hindu banyak terkandung ajaran-ajaran etika yang dapat mengarahkan peserta didik memiliki karakter yang baik dalam kehidupannya. Dalam pelaksanaan pendidikan Agama Hindu guru sudah biasa melakukan bimbingan secara langsung atau tatap muka untuk memberi pengetahuan agama dan membentuk karakter peserta didiknya.
Namun mewabahnya pandemi Covid-19 telah merubah pola belajar di peserta didik yang dulu tatap muka di sekolah menjadi melalui daring (dalam jaringan). Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kemendikbud No. 15 Tahun 2020. Pelaksanaan pembelajaran daring merupakan salah satu cara untuk memutus penyebaran rantai Covid-19.
Perubahan pola belajar tersebut menimbulkan masalah baru dalam dunia pendidikan. Guru merasa bingung dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Siswa juga mengalami kesulitan dalam pembelajaran jarak jauh, karena siswa dipaksa untuk mandiri dalam mencari informasi terkait dengan pembelajaran Agama Hindu. Siswa yang dulunya aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas menjadi pasif dalam pembelajaan jarak jauh. Hal tersebut karena tidak tersedianya wadah untuk siswa melakukan diskusi seperti haknya diskusi di dalam kelas. Pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan hanya melalui Group Whatsapp ternyata tidak mampu mengembalikan keaktifan siswa. Terkadang siswa tidak membaca informasi yang diberikan guru melalui pesan Whatsapp sehingga siswa tidak mengumpulkan tugas-tugasnya. Setelah dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi, keaktifan siswa hanya 46,67% dalam kegiatan pembelajaran melalu Group Whatsapp.
Untuk mengatasi permasalahan di atas dapat dilakukan dengan menerapkan metode belajar yang mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar merupakan segala sesuatu yang dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung. Hanafiah dan Cucu (2010) mengemukakan bahwa proses aktivitas pembelajaran harus melibatkan seluruh aspek psikofisis peserta didik, baik jasmani maupun rohani sehingga akselerasi perubahan perilakunya dapat terjadi secara cepat, tepat, mudah, dan benar, baik berkaitan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Kunandar (2013) mendefinisikan aktivitas belajar sebagai keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Kegiatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, dan perbuatan dalam proses pembelajaran diarahkan oleh guru agar siswa melakukan aktivitas sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berdasarkan beberapa pengertian aktivitas belajar menurut para ahli di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh aspek psikofisis setiap siswa, baik jasmani maupun rohani, aktivitas siswa diperlukan guna menunjang keberhasilan dalam belajar dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa adalah dengan menggunakan menerapkan Quantum Teaching. Quantum Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar (Bobbi DePorter 2014). Penggunaan “TANDUR” pada model pembelajaran Quantum Teaching diharapkan akan dapat menumbuhkan minat, pengalaman, dan juga kreatifitas siswa. “TANDUR” merupakan akronim dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan. Tumbuhkan maksudnya adalah menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, Alami diartikan menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua siswa, Namai yaitu kegiatan menyediakan kata kunci atau konsep pada proses pembelajaran, Demonstrasikan merupakan memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat menerapkan pembelajaran yang telah mereka dapatkan, Ulangi yaitu memberikan contoh atau latihan kepada siswa dengan cara mengulang materi yang sudah diajarkan pada proses pembelajaran, Rayakan yaitu perayaan atau penghargaan kepada siswa karena telah menyelesaikan dan berpartisipasi langsung dengan keterampilan dan ilmu pengetahuannya dalam proses pembelajaran .
Bobbi DePorter (2014: 57) mengemukakan bahwa Quantum Teaching dipilih karena dapat membuat siswa mampu aktif dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran sehingga siswa memiliki motivasi yang baik agar dapat memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari. Selain itu dengan strategi “TANDUR” dapat meminimalisir keadaan siswa pada saat siswa merasa bosan di dalam kelas sehingga diharapkan siswa akan senang selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan adanya aktivitas belajar yang baik tentu akan meningkatkan hasil belajar siswa yang baik.
Agar pembelajaran menjadi efektif sesuai dengan protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran covid-19, maka Quantum Teaching dilaksanakan dengan bantuan Google Classroom. Google Classroom atau ruang kelas Google merupakan suatu serambi pembelajaran campuran untuk ruang lingkup pendidikan yang dapat memudahkan pengajar dalam membuat, membagikan dan menggolongkan setiap penugasan tanpa kertas (paperless). Software tersebut telah diperkenalkan sebagai keistimewaan dari Google Apps for Education yang rilis pada tanggal 12 Agustus 2014. Menurut website resmi dari Google, aplikasi Google Classroom merupakan alat produktivitas gratis meliputi email, dokumen dan penyimpanan. Classroom di desain untuk memudahkan guru (pengajar) dalam menghemat waktu, mengelola kelas dan meningkatkan komunikasi dengan siswa-siswanya. Dengan Google Classroom ini dapat memudahkan peserta didik dan pengajar untuk saling terhubung di dalam dan diluar sekolah. Rosemarie DeLoro, seorang guru asal New York, menyatakan selama 60 tahun dia mengajar tidak pernah sekalipun menggunakan komputer. Namun, sejak memiliki Chromebook dan Google Classroom di dalamnya, dia bisa dengan mudah memberikan pekerjaan rumah digital kepada murid-muridnya dan memberikan tanggapan secara langsung, kapan pun dan di manapun (Biantoro, 2014).
Berdasarkan website resmi dari Google, Google Classroom ini memberikan beberapa manfaat seperti: 1) Kelas dapat disiapkan dengan mudah; pengajar dapat menyiapkan kelas dan mengundang siswa serta asisten pengajar. Kemudian di dalam aliran kelas, mereka dapat berbagi informasi seperti tugas, pengumuman dan pertanyaan; 2) Menghemat waktu dan kertas; pengajar dapat membuat kelas, memberikan tugas, berkomunikasi dan melakuan pengelolaan, semuanya di satu tempat; 3) Pengelolaan yang lebih baik; siswa dapat melihat tugas di halaman tugas, di aliran kelas maupun di kalender kelas. Semua materi otomatis tersimpan dalam folder Google Drive; 4) Penyempurnaan komunikasi dan masukan; pengajar dapat membuat tugas, mengirim pengumuman dan memulai diskusi kelas secara langsung. Siswa dapat berbagi materi antara satu sama lain dan berinteraksi dalam aliran kelas melalui email. Pengajar juga dapat melihat dengan cepat siapa saja yang sudah dan belum menyelesaikan tugas, serta langsung memberikan nilai dan masukan real-time; 5) Dapat digunakan dengan aplikasi yang anda gunakan; kelas berfungsi dengan Google Document, Calender, Gmail, Drive dan Formulir; 6) Aman dan terjangkau; kelas disediakan secara gratis. Kelas tidak berisi iklan dan tidak pernah menggunakan konten atau data siswa untuk tujuan iklan.
Berdasarkan pengertian dan kelebihan Google Classroom yang telah dijelaskan di atas, maka Penerapan Quantum Teaching berbantuan Google Classroom dapat meningkatkan aktivitas belajar Agama Hindu siswa kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak Tahun Pelajaran 2020/2021.
- METODE
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dengan sengaja dilakukan untuk merencanakan, melaksanakan kemudian mengamati dampak dari pelak- sanaan tindakan tersebut pada subjek penelitian. Penelitian dilaksanakan di Kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak dengan subjek penelitian berjumlah 6 orang siswa dalam pembelajaran Agama Hindu Tahun Pelajaran 2020/2021. Objek sasaran kegiatan yang ditangani dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa pada pelajaran Agama Hindu. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus.
Prosedur penelitian dilaksanakan dengan empat tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk skor aktivitas belajar siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengukur aktivitas belajar siswa berbentuk lembar observasi. Data Skor aktivitas belajar dianalisis berdasarkan skor rata-rata (x), mean ideal (MI), standar deviasi ideal (SDI) dengan kriteria keberhasilan yaitu aktivitas belajar siswa minimal berada pada kategori tinggi.
III. PEMBAHASAN
Pada tahap awal penelitian, peneliti mengadakan refleksi awal untuk mengetahui sejauh mana aktivitas belajar siswa sebelum menerapkan model Quantum Teaching berbantuan Google Classroom. Berdasarkan data yang di dapat pada tahap awal penelitian, menunjukkan bahwa aktivitas belajar Agama Hindu siswa kelas VI di SD Negeri 1 Gunung Salak pada refleksi awal atau sebelum tindakan masih rendah. Hal ini ditunjukan dari rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 46,67% berdasarkan hasil observasi rendahnya aktivitas belajar siswa disebabkan kurang aktifnya siswa dalam mengikuti pelajaran, siswa sering terlambat mengumpulkan tugas, ada juga siswa yang tidak mengumpulkan tugas yang diberikan guru. Rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menjadikan perhatian dan motivasi siswa kurang terhadap materi yang dipelajari, sehingga tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari juga rendah. Rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari berdampak terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa.
Untuk mengatasi permasalahan pada refleksi awal, peneliti menerapkan model Quantum Teaching berbantuan Google Classroom dalam kegiatan pembelajaran Agama Hindu di kelas VI SD Negeri 1 Gunung Salak. Hasil penelitian pada siklus 1 menunjukkan bahwa persentase aktivitas belajar siswa mencapai 63,3%. Aktivitas belajar siswa pada siklus 1 jika disesuaikan dengan Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima berada pada kategori cukup aktif. Hasil penelitian pada siklus 1 menjukkan hasil yang positif, karena terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dari refleksi awal ke siklus 1 meskipun belum mencapai 80%.
Untuk mencapai persentase aktivitas belajar siswa 80%, peneliti melakukan refleksi kegiatan pembelajaran pada siklus 1 untuk dapat dilakukan perbaikan pada siklus 2. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1, penyebab belum optimalnya aktivitas belajar pada siklus 1 adalah : (1) siswa masih belum terbiasa belajar dengan model Quantum Teaching; (2) Siswa masih belum paham dalam menggunakan Google Classroom; (3) Siswa masih malu-malu dalam menyampaikan pendapat pada kolom diskusi Google Classroom; (4) Hanya sedikit siswa yang mencatat informasi yang diberikan guru; (5) Siswa masih sering terlambat dalam mengumpulkan tugas.
Melalui refleksi pada siklus I, peneliti menyiapkan kembali skenario pembelajaran dalam Google Classroom. Setelah melakukan perbaikan proses pembelajaran pada siklus II aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ni ditunjukan dengan persentase rata-rata aktivitas belajar Agama Hindu Siswa mencapai 83,3%. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan positif aktivitas belajar siswa dari siklus 1 menuju siklus 2. Persentase aktivitas belajar pada siklus 2 berada pada kategori tinggi dan sudah mencapai kriteria minimal yang telah ditentukan. Persentase peningkatan aktivitas belajar siswa dari ke siklus 1 ke sklus 2 sebesar 20%. Meningkatnya aktivitas belajar siswa kelas VI di SD N 1 Gunung sesuai dengan pendapat Bobbi DePorter (2014) yang menyatakan bahwa Quantum Teaching dipilih karena dapat membuat siswa mampu aktif dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran sehingga siswa memiliki motivasi yang baik agar dapat memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, peneliti melakukan perbaikan dengan : (1) menjelaskan kepada siswa belajar dengan model Quantum Teaching; (2) memberikan tutorial kepada siswa penggunaan Google Classroom dalam kegiatan belajar; (3) memberikan motivasi kepada siswa agar memberikan pendapat pada saat diskusi dalam Google Classroom; (4) memberikan tugas kepada siswa untuk mencatat ringkas materi atau informasi yang diberikan oleh guru; (5) mengingatkan kembali batas waktu pengumpulan tugas, sehingga siswa dapat mengumpulkan tugas tepat waktu.
Hasil peneltian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Wijayanto, dkk (2013) menunjukkan bahwa Penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika siswa kelas III semester I SD No. 1 Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2012/2013. Aktivitas belajar dengan model Quantum Teaching dapat meningkat tidak terlepas dari keunggulan model Quantum Teaching. Menurut Akbar dan J. A. Pramukantoro (2014), bahwa kelebihan model Quantum Teaching adalah: (1) Membuat siswa merasa nyaman dan gembira dalam belajar, karena model ini menuntut setiap siswa untuk selalu aktif dalam proses belajar; (2) Memberikan motivasi pada siswa untuk ambil bagian dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berlangsung; (3) Dengan adanya kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuannya, akan memudahkan guru dalam mengontrol sejauh mana pemahaman siswa dalam belajar.
Meningkatnya aktivitas belajar siswa juga karena didukung dengan penggunaan aplikasi Google Classroom dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran yang dibantu dengan Google Classroom dapat mempermudah siswa dalam mengakses informasi yang diberikan guru. Siswa juga lebih mudah dalam melakukan diskusi melalui kolom diskusi. Selain itu, guru juga sangat dipermudah dalam melakanakan kegiatan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Nadziroh (2017) bahwa guru dapat memberi sebuah pertanyaan secara online dan masing-masing siswa dapat menyampaikan jawaban, kegiatan tersebut dapat membuat kelas lebih interaktif. Aktivitas belajar siswa yang paling mudah diamati pada Google Classroom adalah terjalinnya komunikasi atau diskusi interaktif. Hal ini sejalan dengan pendapat Nilakandi (2014) menyatakan manfaat Google Classroom yang termasuk paling penting adalah memungkinkan para guru dan siswa melakukan kolaborasi online yang efisien. Guru bisa memberikan pemberitahuan kepada para siswa untuk memulai diskusi secara online atau memberitahu tentang tugas atau kegiatan pembelajaran.
Pada pembelajaran dengan Google Classroom Para siswa juga mempunyai kesempatan untuk melakukan umpan balik dengan siswa lainnya dengan mengunggah langsung ke fitur diskusi. Jadi, jika siswa membutuhkan bantuan karena kesulitan dalam memahami tugas, mereka bisa langsung mendapatkan masukan dari teman sekelasnya.
- SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar Agama Hindu Siswa Kelas VI di SD N 1 Gunung Salak melalui penerapan Quantum Teaching berbantuan Google Classroom. Peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari persentase refleksi awal 46,67 %, meningkat pada siklus 1 menjadi 63,3% dan mencapai kategori tinggi pada siklus 2 yaitu 83,3%. Melalui penerapan Quantum Teaching berbantuan Google Classroom, siswa Kelas VI di SD Negeri 1 Gunung Salak menjadi lebih aktif dalam mengungkapkan pendapat, lebih aktif dalam berdiskusi dan lebih giat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, M.S dan Pramukantoro, J.A.2014. “Pengaruh Model Quantum Teaching Terhadap Motivasi Siswa pada Standar Kompetensi Dasar-Dasar Elektronika di SMK Nu Sunan Drajat Paciran Lamongan”. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 03 hal. 105-110. Diakses pada tanggal 15 November 2020.
Biantoro, Bramy. 2014. “Peduli Pendidikan, Google Classroom Buat Ruang Kelas
Di Dunia Maya.” Tersedia pada https://www.merdeka.com/teknologi/aplikasi-baru-google-segera-gantikankelas-di-sekolah.html. Diakses pada 9 November 2020.
Boobi De Porter dan Mark Readon.2014.Quantum Teaching. Terjemahan Ary Nilandari Cetakan ke-1, Bandung: PT Mizan Pustaka.
Hanafiah, Nanang dan Cucu Suhana. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. PT Refika Aditama. Bandung.
Peraturan Pemerintahan No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
Surat Edaran Kemendikbud No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease.
Nadziroh, F. (2017). “Analisa Efektifitas Sistem Pembelajaran Berbasis E-Learning”. Jurnal Ilmu Komputer Dan Desain Komunikasi Visual (Jikdiskomvis), 2(1), 1–14.
Nilakandi, Z. 2014. “Pengertian Google Classroom Beserta Manfaat, Kelebihan dan Kekurangannya”. Tersedia pada https://www.nesabamedia.com/pengertian-google-classroom/. Diakses pada tanggal 13 November 2020.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wiyajayanto, dkk. 2013. “Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas III SD No. 1 Jinengdalem”. Mimbar PGSD Undiksha. Vol.1 No. 1.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Kembali ke Atas


